Ticker

6/recent/ticker-posts

"MEREKA BUKAN PENCURI" KISAH MAHASISWI USU YANG 2 BULAN BELAJAR BERSAMA PENGAMEN JALANAN

Potret Humanis di Balik Pertanyaan: Siapa Sebenarnya Pengamen di Sebelah Kita

KABARPOSNEWS.COM MEDAN – Setiap malam, ketika kota ini tidur, ada ribuan mata yang tetap terjaga dengan lapar. Setiap fajar, ketika kita terbangun dari tempat tidur nyaman, ada ribuan tangan yang merentangkan meminta sesuap nasi. Mereka ada di persimpangan traffic light, di depan mall, di sudut trotoar 
 hidup dari recehan kasihan, dari sisa makanan pedagang, dari apapun yang bisa mereka temukan.
Selama ini, mungkin kita hanya melihat mereka sebagai gangguan. Pengamen yang memaksa kita mendengar, yang mengganggu kenyamanan kita saat macet.
 Kita mengerem jendela mobil, melengahkan tatapan, berbisik "Dasar pemalas!" Kemudian pergi dengan perasaan lega — lega karena kita bukan mereka.

Tapi pernahkah terlintas di benak kita: siapa sebenarnya mereka Apa yang membuat mereka berakhir di jalanan.  Dan yang lebih penting — bisakah mereka berubah

Sebuah pengalaman luar biasa baru saja terjadi di Rumah Perlindungan Sosial Kota Medan. Seorang mahasiswi berani menghampiri dunia yang dianggap nakal ini. Bukan untuk menginvestigasi atau menulis kejahatan mereka, tapi untuk 

memahami  dan mungkin  membantu mereka menemukan jalan kembali ke kehidupan yang layak.

Khara Eirene Capah, mahasiswi Program Studi S1 Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara, baru saja menyelesaikan dua bulan masa PKL-nya di Rumah Perlindungan Sosial Kota Medan. 

Dua bulan yang mengubah seluruh perspektifnya tentang kehidupan, tentang kemanusiaan, dan tentang apa arti bantuan sejati.
"Dulu kalau lihat pengamen di jalan, saya langsung menghindari. Takut ditipu, takut harus mengeluarkan uang, takut terlibat masalah. Tapi setelah bergaul langsung dengan mereka selama dua bulan ngobrol bersama saya sadar bahwa mereka adalah manusia juga.

 Mereka punya nama, punya sejarah, punya mimpi seperti kita semua," aku Khara dengan penuh perasaan.

 RUMAH PERLINDUNGAN SOSIAL
Rumah Perlindungan Sosial Kota Medan bukan tempat "penampung" seperti yang selama ini banyak orang bayangkan. Lembaga yang beralamat di Jl. Bunga Turi II, Sidomulyo, Kec. Medan Tuntungan, ini adalah lembaga kesejahteraan sosial yang berfungsi sebagai penyedia layanan komprehensif bagi Para Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS).
Berbasis dari peraturan yang ada, lembaga ini berada di bawah koordinasi Dinas Sosial Kota Medan. Fungsinya bukan sekadar sebagai tempat tinggal sementara, melainkan sebagai ruang transisi untuk memulihkan martabat manusiawi para klien yang datang dengan berbagai permasalahan sosial. "Kita tidak mengurung mereka di sini selamanya. Rumah Perlindungan Sosial adalah tempat singgah — semacam waktu untuk memulihkan kondisi mereka secara fisik, mental, dan sosial. Tujuan akhirnya jelas: 

reunifikasi dengan keluarga atau reintegrasi ke masyarakat dengan kondisi yang lebih baik," jelas Herry Saputra S.E., M.I.Kom, Ka UPT Rumah Perlindungan Sosial Kota Medan.

Kategori PPKS yang ditangani lembaga ini sangat bervariatif, meliputi:
1. Anak jalanan (anak-anak yang lari dari rumah atau kehilangan keluarga)
2. Pengamen jalanan (dewasa yang memilih bekerja di jalanan)
3. Penyandang disabilitas (yang tak punya keluarga peduli)
4. Lanjut usia terlantar (orang tua tanpa penanggung jawab)
Setiap kategori memiliki problema berbeda — dan memerlukan pendekatan berbeda pula. Makanya, ilmu yang digunakan juga harus profesional dan terstruktur.

"Pengamen jalanan itu berbeda dari kategori PPKS lainnya. Mereka bukan tidak mau bekerja — mereka hanya tidak punya akses ke pekerjaan formal. Banyak dari mereka punya skill, punya pengalaman kerja, tapi karena sudah terlabel sebagai pengamen, sulit kembali ke pekerjaan normal," papar Herry.

METODE INDIVIDUAL DALAM BIMBINGAN SOSIAL
Di balik pendampingan yang tampak sederhana, ada ilmu yang sangat kompleks. Metode yang digunakan disebut Individual Case Work atau Bimbingan Sosial Perorangan — pendekatan standar dalam pekerjaan sosial yang telah berkembang selama lebih dari seabad.
Secara historis, metode ini pertama kali dikembangkan oleh Mary Richmond pada tahun 1917. Perempuan yang sering disebut sebagai "Ibu Case Work Modern" ini menciptakan kerangka kerja sistematis dalam penanganan kasus individu. Kemudian, para ahli seperti Gordon Hamilton, Helen Harris Perlman, dan William J. Reid terus menyempurnakan hingga menjadi seperti sekarang.

Secara sederhana, Individual Case Work adalah metode intervensi yang berfokus pada penanganan masalah individu secara personal. Berbeda dengan pekerjaan sosial kelompok atau komunitas, case work dilakukan secara intensif — satu pekerja sosial dengan satu klien, membangun hubungan kepercayaan untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah dari akarnya.

"Pertama kali diajarin metode ini di kampus, saya pikir ini sama saja dengan konseling atau terapi biasa. Tapi setelah praktik langsung, saya sadar bedanya. Case work bukan sekadar ngobrol — ini tentang membangun kepercayaan, melakukan assessment menyeluruh, menyusun rencana intervensi yang tepat, evaluasi berkala, dan menentukan kapan saat yang tepat untuk mengakhiri hubungan kerja. Ini seperti profesi medis ada prosedurnya, ada standarnya," papar Khara penuh semangat.

Tahapan dalam Individual Case Work sangat sistematis:

1. Intake — Menerima klien, melakukan wawancara awal untuk mendapatkan data identitas dan masalah dasar
2. Assessment — Menilai kondisi klien secara komprehensif menggunakan tools tertentu
3. Planning — Menyusun rencana intervensi berbasis hasil assessment
4. Intervention — Melaksanakan bantuan langsung sesuai rencana
5. Evaluation — Mengevaluasi perkembangan klien secara berkala
6. Termination — Mengakhiri hubungan kerja ketika klien sudah siap Mandiri

Dalam tahap Assessment pada praktek perkerjaan sosial, Khara menggunakan tools yang disebut BPSS (Biologi,Psikologis,Sosial,Spiritual) yang menilai empat aspek utama:
- Biologis — Kondisi fisik, kesehatan, kemampuan fungsional
- Psikologis— Kondisi mental, emosi, mekanisme koping
- Sosial — Hubungan dengan keluarga, dukungan teman, jaringan sosial
- Spiritual — Nilai-nilai, keimanan, pandangan hidup

Pendekatan holistik ini memastikan tak ada aspek yang terlewat — karena masalah manusia itu kompleks, nggak bisa dilihat dari satu sudut saja.

KASUS KHUSUS: PENGAMEN JALANAN YANG BUKAN PENCURI
Kasus paling berkesan yang ditangani Khara adalah kasus seorang pengamen berusia 23 tahun — sebut saja nama samaran Hari Tanjung. Kasus ini mengubah seluruh pandangannya tentang pengamen jalanan.
Hari Tanjung sampai di Rumah Perlindungan Sosial setelah dirujuk dari jalanan. Saat pertama kali di-wawancarai, ia tampak skeptis, sinis, dan tak mau bercerita banyak. Banyak yang perlu buktikan bahwa pekerja sosial di sini berbeda dari orang lain yang selama ini memperlakukannya sebagai sampah masyarakat.
Namun, setelah beberapa kali pertemuan dan pembangunan rapport, akhirnya ia mau membuka diri. Dan yang keluar dari mulutnya membuat Khara terdiam.
"Ketika ditanya kenapa memilih mengamen, dia cerita hal yang sangat berbeda dari asumsi kita selama ini. Bukan karena nggak mau kerja, bukan karena nakal. Tapi karena dia baru saja kabur dari Pesantren tempat dia menuntut ilmu. Kata dia, aturan di sana terlalu ketat — bangun jam 3 pagi, salat malam, nggak boleh keluar seenaknya. Dia pengen merasakan kebebasan, mandiri, tidak bergantung pada siapa pun," kisahi Khara.
Pemahaman ini langsung mengubah paradigma Khara. Di matanya, Hari Tanjung bukan sekadar "pengamen nakal" tapi seorang remaja yang sedang mencari jati diri, yang merasa tercekik oleh struktur, yang ingin membuktikan dirinya mampu bertahan sendiri. Masalahnya, realitas jalanan jauh lebih brutal dari mimpinya.

Lewat wawancara mendalam menggunakan formulario BPSS, Khara berhasil mengidentifikasi kondisi Hari Tanjung dengan detail yang mengejutkan:
A. Aspek Biologis (Fisik/Kesehatan)
- Perubahan fisik saat pertama kali mengamen: Kelelahan drastis setelah mulai di jalan raya
- Kondisi fisik setelah terbiasa: Telah menyesuaikan diri dengan rutinitas harian bersama teman
- Adakah keluhan kesehatan? Sempat sakit perut, namun sudah diobati
Ringkasan: Adaptasi fisik optimal — tubuhnya mampu menyesuaikan meskipun awalnya mengalami kelelahan ekstrem.
B. Aspek Psikologis (Emosional/Kognitif)
- Perasaan saat pertama kali mengamen: Sangat grogi, hingga meratapi orang yang melintas
- Cara mengatasi pengalaman tidak menyenangkan: Menyimpannya dalam hati, tidak diekspresikan
- Motivasi utama memilih mengamen: Keinginan terlepas dari kekangan ketat di Pesantren
- Harapan ke depan: Segera pulang ke keluarga dan bekerja di restoran atau perusahaan
Ringkasan: Resiliensi tinggi — kemampuan bertahan dalam kondisi sulit luar biasa. Namun, ada kecenderungan menahan emosi negatif secara internal yang perlu mendapat perhatian.
C. Aspek Sosial (Hubungan/Lingkungan)
- Dukungan sosial saat mulai mengamen: Bersama teman untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari
- Kondisi hubungan dengan keluarga: Rindu dan ingin segera pulang
- Pengalaman sosial negatif: Ditertawakan orang lain, disimpan sendiri
- Pengalaman kerja sebelumnya: Pernah bekerja di restoran dan perusahaan sawit
Ringkasan: Memiliki dukungan dari teman sekelompok pengamen — semacam keluarga jalanan. Namun, kerinduan terhadap keluarga asli sangat kuat.
D. Aspek Spiritual (Nilai/Keimanan)
- Pelajaran Pesantren yang diterapkan saat mengamen: "Menjangkau tangan" — tetap berbuat baik kepada sesama
- Pandangan spiritual terhadap profesi saat ini: Berbaik hati kepada sesame apapun condisinya
- Nilai hidup yang memengaruhi pilihan: Kebebasan dari aturan ketat
Ringkasan: Ini yang paling mengesankan! Nilai-nilai positif dari pendidikan agama tetap terjaga meskipun hidup di jalanan. Ia bahkan tetap berpegang pada prinsip "menjangkau tangan" apapun yang terjadi.

"Setelah menilai semua aspek ini, saya terdiam. Kita selama ini melabel mereka sebagai pemalas, pencuri waktu, gangguan. Tapi ternyata ada sejarah yang jauh berbeda di baliknya. Dia seorang manusia yang sedang berjuang — seperti kita semua," tutur Khara.

Berdasarkan hasil assessment, Khara bersama supervisor menyusun rencana intervensi yang komprehensif:
- Biologis: Pemantauan kesehatan rutin
- Psikologis: Konseling CBT untuk pengelolaan emosi yang tertahan
- Sosial: Fasilitasi reunifikasi keluarga dan penempatan kerja
- Spiritual: Penguatan melalui komunitas suportif
Tujuan Utama Klien: Kembali ke keluarga dan memiliki pekerjaan stabil — bekerja di restoran atau perusahaan sawit seperti sebelumnya.

KEGIATAN SELAMA PKL
Selama dua bulan di Rumah Perlindungan Sosial Kota Medan, Khara tidak sekadar jadi penonton. Ia diajak berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan pelayanan langsung:
1. Jumat, 13 Maret 2026 — Pencatatan dan pembaharuan assessment PPKS: Meliputi aspek biologis, sosial, dan psikologis dengan verifikasi kebutuhan dasar
2. Jumat, 27 Maret 2026 — Perencanaan permainan (games) untuk anak-anak PPKS: Bertujuan melatih ketangkasan, pendengaran, dan pengambilan keputusan
3. Kamis, 2 April 2026 — Pemindaian catatan assessment klien baru: Dilakukan dalam bentuk Berita Acara dengan pendampingan rehabilitasi
4. Jumat, 10 April 2026 — Pengecekkan kesehatan PPKS bersama Puskesmas: Meliputi pencatatan, penimbangan berat badan, dan wawancara keluhan kesehatan
5. Jumat, 24 April 2026 — Pemasangan poster Perlindungan Perempuan Rawan Kemiskinanan: Meningkatkan kesadaran sosial tentang perlindungan perempuan
6. Jumat, 24 April 2026 — Tahapan praktikum engagement hingga terminasi: Pelaksanaan tahapan akhir PKL terhadap PPKS
"Setiap kegiatan punya makna. Bahkan yang terlihat sederhana seperti main games dengan anak-anak — itu sebenarnya terapi untuk melatih mereka belajar bersosialisasi, belajar aturan, belajar menerima proses. That's the power of social work," tutur Khara penuh semangat.
REFLEKSI DAN HARAPAN
Dari pengalaman di lapangan, Khara mengidentifikasi beberapa tantangan yang perlu dibenahi:
1. Sistem Dokumentasi Kasus
Kadang kita nemuin kasus yang datanya tidak lengkap atau tidak ter-record dengan baik. Kalau sistemnya lebih canggih — pakai database terintegrasi — penanganan kasus bisa lebih terpantau dan terarah.
2. Kelanjutan Follow-Up
Banyak kasus di mana klien sudah membaik di lembaga, tapi setelah kembali ke masyarakat, mereka kambuh lagi. Ini karena tidak ada pengawasan lanjutan. Butuh sistem follow-up yang lebih baik.
3. Koordinasi Multi-Stakeholder
Proses reintegrasi butuh koordinasi antara lembaga, keluarga, pemerintah, dan masyarakat. Kalau koneksinya baik, keberhasilan pasti lebih tinggi.

"Dulu saya sengaja menghindari pengamen. Takut ditipu. Tapi setelah dua bulan bergaul, saya sadar mereka manusia juga. Perlu didengar, bukan sekadar dikasih solusi," pesan Khara.
Pengalaman ini menjadi cermin bagi kita semua. Di balik label "pengamen", ada manusia dengan mimpi dan harapan yang sama.
Bagi mahasiswi yang akan mengambil PKL di bidang kesejahteraan sosial, pesan Khara sangat sederhana:
"Pertama, jangan takut atau hindari mereka yang berbeda. Berhenti dulu, kita harus memahami sebelum menilai. Kedua, kemampuan mendengarkan lebih penting daripada kemampuan berbicara. Sering kali, mereka hanya butuh didengar — bukan langsung dikasih solusi. Ketiga, semua orang berhak atas kesempatan kedua. Termasuk mereka."
Pembimbing PKL dari pihak kampus, Fajar Utama Ritonga S.Sos., M.Kesos, menegaskan pentingnya pengalaman langsung:
"Teori tanpa praktik adalah imperfect. Melalui PKL ini, mahasiswi jadi bisa mengalami langsung bagaimana rasanya menjadi pekerja sosial yang sebenarnya bukan sekadar di buku teks, tapi berhadapan langsung dengan realitas di masyarakat. Disinilah pembelajaran serta praktek dapat dilakukan langsung melalui pembekalan dari kampus yang aan diterapkan langsung di lapangan."
Lain kali berpapasan dengan mereka mungkin kita bisa sekadar tersenyum, atau setidaknya melihat dengan mata baru.

LAMPIRAN DOKUMENTASI
Dokumentasi Kegiatan PKL di Rumah Perlindungan Sosial Kota Medan
1. Jumat, 13 Maret 2026 — Pencatatan dan pembaharuan assessment PPKS: Meliputi aspek biologis, sosial, dan psikologis PPKS dengan verifikasi kebutuhan dasar
2. Jumat, 27 Maret 2026 — Perencanaan permainan (games) untuk anak-anak PPKS: Bertujuan melatih ketangkasan, pendengaran, dan pengambilan keputusan
3. Kamis, 2 April 2026 — Pemindaian catatan hasil assessment klien baru: Dilakukan dalam bentuk Berita Acara dengan pendampingan rehabilitasi
4. Jumat, 10 April 2026 — Pengecekkan kesehatan PPKS bersama Puskesmas: Meliputi pencatatan, penimbangan berat badan, dan wawancara keluhan kesehatan
5. Jumat, 24 April 2026 — Pemasangan poster bertema Perempuan Rawan Kemiskinanan: Meningkatkan kesadaran sosial di kalangan PPKS
6. Jumat, 24 April 2026 — Tahapan praktikum engagement hingga terminasi: Pelaksanaan tahapan akhir PKL terhadap PPKS

Dilihat