Kabarposnews.co.id - Di antara lalu lalang kendaraan dan debu jalanan Kecamatan Meureudu dan Meurah Dua, ada langkah kecil yang berjalan pelan namun penuh makna. Maryam, usianya baru 3 tahun 3 bulan, menggenggam beberapa lembar masker dengan tangan mungilnya. Wajahnya polos, matanya berbinar, seolah tak tahu bahwa apa yang ia lakukan sore itu sedang mengajarkan sesuatu yang besar kepada orang-orang dewasa di sekitarnya.
Didampingi keluarganya, Maryam menghampiri satu per satu kakek dan ibu-ibu yang duduk di pinggir jalan tanpa mengenakan masker. Dengan gerakan sederhana dan suara yang masih cadel, ia menyerahkan masker itu. Tak ada pidato, tak ada ajakan panjang. Hanya uluran tangan kecil yang membuat beberapa orang tersenyum haru, bahkan ada yang menepuk lembut kepalanya sambil mengucap terima kasih.
Kegiatan berbagi masker, sudah menjadi rutinitas Maryam setiap sore, namun bagi Maryam, mungkin itu hanya aktivitas biasa. Tapi bagi warga yang menerima, perhatian dari seorang bocah cilik terasa begitu menyentuh. Di tengah dunia yang sering sibuk dengan urusan masing-masing, kepedulian sekecil apa pun menjadi pengingat bahwa kebaikan tidak mengenal usia. Empati tidak menunggu kita dewasa, mapan, atau punya banyak harta.
Aksi sederhana itu juga menjadi cermin bagi orang-orang yang menyaksikannya. Jika seorang anak berusia tiga tahun saja sudah diajarkan untuk peduli terhadap kesehatan dan keselamatan orang lain, lalu bagaimana dengan kita yang sudah jauh lebih mengerti arti resiko dan tanggung jawab? Kebaikan memang tidak selalu harus besar, ia bisa dimulai dari hal paling sederhana, menyapa, membantu, atau sekadar berbagi perlindungan.
Maryam mungkin belum memahami istilah “relawan” atau “kepedulian sosial”. Namun dari langkah kecilnya di Meureudu dan Meurah Dua, ia sedang menanam benih empati sejak dini. Benih itu, jika terus disiram dengan teladan dan kasih sayang, akan tumbuh menjadi pohon kebaikan yang menaungi banyak orang.
Kipedulian Maryam mengajarkan kita tentang semangat berbagi, tidak perlu menunggu usia atau kesempatan besar. Ia lahir dari hati yang peka dan dididik untuk melihat sesama sebagai saudara. Dari tangan mungilnya, kita belajar bahwa dunia bisa menjadi lebih hangat ketika setiap orang, anak-anak maupun orang dewasa memilih untuk peduli dan mengambil bagian, sekecil apa pun itu, demi kebaikan bersama.(*)
Editor : Redaksi











